Jiwamu
setegar karang, bu Rama (secuil cerita dari KUTA)
Wajah senja sudah menyelimuti, namun
keriput itu sedikit pudar akan pembawaan sifatnya yang ramah, humoris dan
periang. Ya ibu Rama namanya yang berumur hampir tigaperempat abad. Yang ia sendiri saat kutanya tidak tahu berumur
berepa hanya menjawab berumur banyak. Sosok kartiniini
tegar memutuskan untuk mengadu nasib merantau kenegeri orang. Meluntang nasib menjual makanan ringan
seadanya. Minuman, Roti, kacang, telur rebus, kopi seduh selalu menemani
dirinya disudut belakang kamar ganti di tempat wisata pantai kuta. Ya, 26 tahun
menggantung di tanah orang. 26 tahun dengan nasib tak menentu, dan 26 tahun
karsa dalam hati membuana.
Sesaat aku memperhatikan wajahnya yang
riang kala melayani seorang turis membeli minuman. Dari kejauhan nampak ia
sangat mudah membaur seperti bertemu sahabat lama. Akupun penasaran, lalu
kudatangi mereka yang tengah asyik mengobrol. dan, amazing !!tubuh yang seperti tidak berpendidikan itu ternyatamampu menguasai
bahasa inggris dan jepang dengan lancar. Tersentak kagum.
Rasa penasaran semakin membuncah. Aku
cari tahu tentang sosok ini. Dengan sengaja aku membeli roti dan memesan teh
susu. Segera ia menyambutku hangat sambil berbicara bahasa jepang namun itu
tidak kumengerti sama sekali. lalu Kucoba ngobrol dengan pertanyaan sederhana. Suasana menjadi cair, tawa, senyum mencuat
dari wajahnya. Aku senang, entah kenapa perasaan senang ini seperti berbeda.
Apa ibu ini menggambarkan ibuku dikampung, aku nggak tahu. Pertanyaan dan
pernyataan saling terlontar antara mulutku dan bu Rama. Cerita ngalor ngidul
lepas. Cerita senang, lucu. Disela tertawa ibu Rama menceritakan cerita lucu
tentang jeleknya wajah seorang bule yang tidak suka minum jamu, bu Rama pun tertawa
lepas setelah mengekspresikan wajah bule tersebut. kehangatan seperti ini yang
membuatku terkenang akan sosok yang melahirkanku. Ibu.
Spontan aku bertanya tentang anaknya.
Wajah riang tadi berubah kaku, diam
sejenak. Lalu ia mulai bercerita. Suaranya bergetar seperti ada yang menyesak.
Kutangkap matanya mulai berbinar.
“ ibu punya anak, sekarang dia sedang
tugas di kalimantan. Dia seorang tentara Sudah 4 tahun tugas disana”. Lalu
berhenti sejenak menghela nafas panjang. Kemudian melanjutkan ceritanya sedikit
senyum lega.” Namanya hendra. anak semata wayang ibu satu-satunya. Waktu kecil
ibu bawa dia kesini, setelah hendra beranjak besar ibu titipkan ke pamannya di
banyuwangi. Dan bersekolah disana. Tiap bulan ibu mengirim uang tabungan ibu
untuk biaya sekolahnya hanya sekarang aja ibu tidak mengirim, kan sudah punya
penghasilan sendiri.”
“wah berarti sekarang uang ibu banyak
dong,” godaku.
Ia hanya tersenyum. “yah bisa dibilang
begitu, tapi dulu. Sekarang mah udah ludes. Sebulan yang lalu ibu kirim untuk bibi
ibu dikampung. Beliau sakit keras. Jadi ibu kirim sebagian, yang sebagiannya
lagi, sudah terkuras buat kebutuhan dagang ibu”.
Saat kutanya perihal anaknya menjenguk
beliau, ibu itu hanya menggeleng kepala diam seribu bahasa, pandangannya
terbuang jauh dilaut lepas, aura wajahnya seperti terombang-ambing dihempas
ombak yang menggulung. Tapi setelah itu, dibalik pertanyaan yang aku tanyakan
dia selalu menjawab dengan penuh kebanggan.
Bangga dengan apa yang ia perbuat untuk anaknya melebihi kecintaan pada
diri sendiri. Meskipun tak bertemu, walaupun sudah bertahun-tahun tak bertatap
muka. Namun jiwa seorang ibu benar-benar menjadi kesejatian pribadinya.Pengorbanannya
tidak sebatas itu, ia menceritakan bagaimana perjuangan ia dan beberapa
rekannya untuk mendapatkan sepetak area khusus tempat sholat. Meskipun mereka
menggotong membayar bulanan, tapi mereka tetap tegar dan bangga karena bisa
berbagi ditengah kehidupan yang sulit.
Di usia senjanya bu rama, tetap mengais
hidup. Kesendirian, kesedihan, keterbelengguan. Namun, tegar. Ya ketegaranlah
yang membuat ibu ini selalu bahagia. Bahagia mengisi hari dipulau dewata.
Senyum pembeli dan turis yang menjadi obat pelipur lara ditengah pengembaraan
hidup kesendirian.
Tetaplah pada keceriaanmu, meski engkau
tidak tahu dimana rimba si buah hati yang kau banggakan. Entah bagaimana sanak
keluarga menilaimu, teruslah menebar senyum kesederhanaan ditengah glamoritas
kehidupan pantai Kuta.
Mutiara
itu masih berkilau ditengah pulau.
Rona
itu masih memerah dibalik senja.
Satu pesan dari beliau “hiduplah untuk
memberi sebanyak-banyaknya, bukan meminta sebanyak-banyaknya”.
Dengan penuh takzim saya tulis untukmu
bu Rama.. (-_-)