Tidak ada yag berubah
sama sekali gang itu. Gang kecil lurus tanpa belok. Jalanan, pohon mangga,
mushola, kuburan, lapangan bola, kebun
ubi bu ijah. tidak ada yang berubah, hanya saja mushola yang sudah tampak tua.
Sambil berjalan pikiranku menembus ke masa lalu, masa yang tak pernah
terlupakan, massa yang hanya memikirkan kesenangan. Ya massa kecilku bersama 4
sohibku. Eka, angga, molen dan iza. Sekarang aku tidak tahu apa kabar mereka.
Sore berhias lentera
emas, aku berjalan menyusuri gang itu.
aku tersenyum geli mengingat apa yang kulakukan bersama sohibku. Memori
14 tahun silam terkuak kembali terputar dibenakku, seolah-olah memutar kaset
lama, dikejar bu ijak karena mencuri ubinya. Menakuti teman cewek saat pulang
ngaji yang lewat kuburan. pengalaman yang indah.
Ketika melewati pohon
mangga. Setiap kali pohon mangga mulai berbuah. Kami sudah pasang status siaga
penuh menjaga pohon mangga. Takut kalau ada saingan dari anak lain, tetap saja
gerilya anak sekampung tanpa diundang ramai ndolani pohon mangga.
Meskipun pohon itu bukan milik orang tua kami. Namun, hukum yang kami terapkan
adalah selagi pohon tersebut berada dalam kampung, maka akan menjadi milik
bersama. Sah tanpa syarat mengambil buahnya. Status siaga penuh dipakai
manakala angin kencang meniup pohon mangga itu, dan itu artinya apa yang kami
tunggu sebentar lagi akan turun satu persatu. Kantong kresek ditangan, sandal
dilepas, baju dibuka, mata terus mengintai ke-tingkil-an mangga yang
berduyun, meleok diterpa angin. Hatiku berdegup kencang. Semua anak yang lain
diam terpaku sambil melihat keatas. Saat mangga jatuh. Tanpa pikir panjang.
Kami semua berlarian berebutan mendapatkannya. Siapa yang duluan dia dapat.
Tapi, belum tentu yang duluan dapat karena kami saling dorong-dorongan. Aku
hanya mengembang senyum mengenang waktu
itu.
Lalu, terlintas wajah yang melahirkanku.
Senyumnya masih melekat dipikiran dengan jelas. Uban yang putih, guratan tua
kulit wajah. Suara yang indah saat ngaji. Sosok yang sabar, penyayang, serta
jiwa keibuan tercurat ia curahkan padaku. Sosok yang selalu memanjakan aku.
Selalu masak masakan kesukaanku. Hah.. Ingin rasanya mencium kedua tangannya.
Sekaligus minta maaf atas perlakuanku yang sering melawan beliau dulu. aku
sungguh tidak sabar ingin menemuinya. Bagaimana kabar beliau sekarang. Gumamku.
Dari kejauhan. Tidak
biasanya Aku melihat Orang ramai berkerumun di rumahku. Ada yang duduk-duduk. Tampak
ibu-ibu membawa sangkek bundar. Ada apa ? apa yang terjadi ? aku semakin
bergegas berjalan. Rasa penasaran
semakin membuncah. Ada rasa kekhawatiran yang teramat. Membuat sesak dada.
Perasaan terasa kalut.
Astaghfirullah...
ada bendera kuning terkibar. Aku semakin khawatir. Hatiku bergetar hebat.
Darahku berdesir kuat. Apa sebenarnya yang terjadi. Jangan... jangan...
jangan. Aku tak kuasa menahan diri. Menghadapi kenyataan.
Ketika
berada dihalaman rumah. aku langsung berlari. Orang sekitar terpaku
memandangku. Itu tidak kupedulikan. Tiba-tiba kak siti. Kakakku. Langsung memeluk
sambil terisak tangis berurai air mata. Kulihat matanya membengkak mungkin sudah
banyak air mata yang keluar.
“Ponakanmu,
ndri....”.
“
Alhamdulillah...”. ucapku refleks.
Dan.
“plaaaakkkk”.....
Sebuah
gambaran pancasila melekat di pipiku.
^_^
Cerita
ini hanya fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan nama dan tokoh itu hanya sebuah kebetulan semata.