Tadi, azan yang aku kumandangkan tidak seperti
biasanya, entah apa yang kurasakan. Agak sedikit aneh. Gamang. Diluar
perkiraan. jemaah yang sholat tidak ada sama sekali, astagfirullah... cukup
lama aku menunggu berharap ada yang datang. 5 menit telah lewat. Apakah harus
aku sholat sendiri dirumah Allah ini ? ah, mending butuh sedikit sabar.
Gumamku. Sementara menunggu aku baca Al-qur’an. Dan, satu orangpun belum juga
ada masuk mushola ini. Tiba-tiba Entah darimana muncul perasaan sedih yang
teramat. Melihat deru deru kendaraan lalu-lalang didepan mushola. Ya Allah,
apakah ini pertanda akhir zaman seperti yang dikatakan ulama terdahulu ? aku
terus mengaji sampai 2 lembar. Alhamdulillah, akhirnya ada yang masuk mushola.
Seorang laki-laki renta berjalan sedikit terengah dan pelan. Sedikit lega
terasa. Ternyata masih ada jemaah ditempatMu ini untuk menyambung ibadah secara
berjamaah padaMu ya rab. Kamipun sholat berdua. Akupun merangkap menjadi
muadzin dan imam.
Sebuah ironi yang terjadi pada umat ini, ya malam
tahun baru. Malam dimana manusia tidak ada yang melupakannya, tidak ada yang
tidak menyambutnya dengan suka-cita. Tua dan muda, kaya dan miskin, laki-laki
dan perempuan, beerkumpul bersama menanti detik pergantian tahun. Semuanya
sibuk kesana kemari, melupakan rutinitas harian, meninggalkan pekerjaan, dan
terjun melepaskan penat melalui momen ini. Dengan dalih mendapatkan
kebahagiaan.
Gegap gempita tahun baru sudah menjadi tradisi dan
budaya baru. konser, nongkrong, bakar ayam, pesta pora dengan segala suasana
penuh kemenangan. Sebenarnya ada apa dengan kebahagiaan dan kemenangan
perpindahan masa jika dirayakan dengan foya-foya.
Apakah hal tersebut sudah menjadi kewajiban
? Apakah ditambah kebahagiaan tersebut, lalu bagaimana nilainya jika kita
teropong dengan kacamata agama, pernahkah sebuah hadis atau ayat yang
menjelaskan tentang hedonis dimalam tahun baru MASEHI, tidak !!! tidak sama
sekali. Hal seperti inlah yang perlu kita sebgai para pemikir untuk benar-benar
kritis menghadapi sebuah yang bisa dikatakan “media” orang yang memiliki kedok
dibelakang ini. Yang menunggangi sikap manusia diseluruh dunia untuk mengakui
adanya ideologi terselubung yang sdar atau tidak kita diminta untuk mengakui
hal tersebut.
Perbandingan yang sudah cenderung kearah
pengingkaran secara halus oleh umat ini, perbandingan dilema ajaran yang sudah
semestinya digeluti dengan pemahaman dan aplikatif. Namun, sudah ternodai
dengan adanya sebuah peradaban baru. Peradaban yang menjadi jurang pemisah
antara manusia dan ideologi yang sebenarnya. Dimana nilai agama yang tertanam
pada umat ini ?, apakah sudah luntur terpoles oleh model kehidupan yang hedon.
Sekaranglah kita mulai bergerak, mulailah dari diri
sendiri untuk lebih kritis dengan fenomena terselubung, gunakan pikiran dan
hati untuk memfilter budaya yang sebenarnya bukan budaya kita ini. Ayo, pemuda
pikirkan !!!!!