Senin, 31 Desember 2012

teratai yang memudar di akhir tahun



Tadi, azan yang aku kumandangkan tidak seperti biasanya, entah apa yang kurasakan. Agak sedikit aneh. Gamang. Diluar perkiraan. jemaah yang sholat tidak ada sama sekali, astagfirullah... cukup lama aku menunggu berharap ada yang datang. 5 menit telah lewat. Apakah harus aku sholat sendiri dirumah Allah ini ? ah, mending butuh sedikit sabar. Gumamku. Sementara menunggu aku baca Al-qur’an. Dan, satu orangpun belum juga ada masuk mushola ini. Tiba-tiba Entah darimana muncul perasaan sedih yang teramat. Melihat deru deru kendaraan lalu-lalang didepan mushola. Ya Allah, apakah ini pertanda akhir zaman seperti yang dikatakan ulama terdahulu ? aku terus mengaji sampai 2 lembar. Alhamdulillah, akhirnya ada yang masuk mushola. Seorang laki-laki renta berjalan sedikit terengah dan pelan. Sedikit lega terasa. Ternyata masih ada jemaah ditempatMu ini untuk menyambung ibadah secara berjamaah padaMu ya rab. Kamipun sholat berdua. Akupun merangkap menjadi muadzin dan imam.
Sebuah ironi yang terjadi pada umat ini, ya malam tahun baru. Malam dimana manusia tidak ada yang melupakannya, tidak ada yang tidak menyambutnya dengan suka-cita. Tua dan muda, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, beerkumpul bersama menanti detik pergantian tahun. Semuanya sibuk kesana kemari, melupakan rutinitas harian, meninggalkan pekerjaan, dan terjun melepaskan penat melalui momen ini. Dengan dalih mendapatkan kebahagiaan.
Gegap gempita tahun baru sudah menjadi tradisi dan budaya baru. konser, nongkrong, bakar ayam, pesta pora dengan segala suasana penuh kemenangan. Sebenarnya ada apa dengan kebahagiaan dan kemenangan perpindahan masa jika dirayakan dengan foya-foya. Apakah hal tersebut sudah menjadi kewajiban ? Apakah ditambah kebahagiaan tersebut, lalu bagaimana nilainya jika kita teropong dengan kacamata agama, pernahkah sebuah hadis atau ayat yang menjelaskan tentang hedonis dimalam tahun baru MASEHI, tidak !!! tidak sama sekali. Hal seperti inlah yang perlu kita sebgai para pemikir untuk benar-benar kritis menghadapi sebuah yang bisa dikatakan “media” orang yang memiliki kedok dibelakang ini. Yang menunggangi sikap manusia diseluruh dunia untuk mengakui adanya ideologi terselubung yang sdar atau tidak kita diminta untuk mengakui hal tersebut.
Perbandingan yang sudah cenderung kearah pengingkaran secara halus oleh umat ini, perbandingan dilema ajaran yang sudah semestinya digeluti dengan pemahaman dan aplikatif. Namun, sudah ternodai dengan adanya sebuah peradaban baru. Peradaban yang menjadi jurang pemisah antara manusia dan ideologi yang sebenarnya. Dimana nilai agama yang tertanam pada umat ini ?, apakah sudah luntur terpoles oleh model kehidupan yang hedon.
Sekaranglah kita mulai bergerak, mulailah dari diri sendiri untuk lebih kritis dengan fenomena terselubung, gunakan pikiran dan hati untuk memfilter budaya yang sebenarnya bukan budaya kita ini. Ayo, pemuda pikirkan !!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar