Rabu, 20 Februari 2013

Pancasila Di Wajahku



Tidak ada yag berubah sama sekali gang itu. Gang kecil lurus tanpa belok. Jalanan, pohon mangga, mushola, kuburan,  lapangan bola, kebun ubi bu ijah. tidak ada yang berubah, hanya saja mushola yang sudah tampak tua. Sambil berjalan pikiranku menembus ke masa lalu, masa yang tak pernah terlupakan, massa yang hanya memikirkan kesenangan. Ya massa kecilku bersama 4 sohibku. Eka, angga, molen dan iza. Sekarang aku tidak tahu apa kabar mereka.
Sore berhias lentera emas, aku berjalan menyusuri gang itu.  aku tersenyum geli mengingat apa yang kulakukan bersama sohibku. Memori 14 tahun silam terkuak kembali terputar dibenakku, seolah-olah memutar kaset lama, dikejar bu ijak karena mencuri ubinya. Menakuti teman cewek saat pulang ngaji yang lewat kuburan. pengalaman yang indah.
Ketika melewati pohon mangga. Setiap kali pohon mangga mulai berbuah. Kami sudah pasang status siaga penuh menjaga pohon mangga. Takut kalau ada saingan dari anak lain, tetap saja gerilya anak sekampung tanpa diundang ramai ndolani pohon mangga. Meskipun pohon itu bukan milik orang tua kami. Namun, hukum yang kami terapkan adalah selagi pohon tersebut berada dalam kampung, maka akan menjadi milik bersama. Sah tanpa syarat mengambil buahnya. Status siaga penuh dipakai manakala angin kencang meniup pohon mangga itu, dan itu artinya apa yang kami tunggu sebentar lagi akan turun satu persatu. Kantong kresek ditangan, sandal dilepas, baju dibuka, mata terus mengintai ke-tingkil-an mangga yang berduyun, meleok diterpa angin. Hatiku berdegup kencang. Semua anak yang lain diam terpaku sambil melihat keatas. Saat mangga jatuh. Tanpa pikir panjang. Kami semua berlarian berebutan mendapatkannya. Siapa yang duluan dia dapat. Tapi, belum tentu yang duluan dapat karena kami saling dorong-dorongan. Aku hanya mengembang senyum mengenang  waktu itu.
 Lalu, terlintas wajah yang melahirkanku. Senyumnya masih melekat dipikiran dengan jelas. Uban yang putih, guratan tua kulit wajah. Suara yang indah saat ngaji. Sosok yang sabar, penyayang, serta jiwa keibuan tercurat ia curahkan padaku. Sosok yang selalu memanjakan aku. Selalu masak masakan kesukaanku. Hah.. Ingin rasanya mencium kedua tangannya. Sekaligus minta maaf atas perlakuanku yang sering melawan beliau dulu. aku sungguh tidak sabar ingin menemuinya. Bagaimana kabar beliau sekarang. Gumamku.
Dari kejauhan. Tidak biasanya Aku melihat Orang ramai berkerumun di rumahku. Ada yang duduk-duduk. Tampak ibu-ibu membawa sangkek bundar. Ada apa ? apa yang terjadi ? aku semakin bergegas berjalan.  Rasa penasaran semakin membuncah. Ada rasa kekhawatiran yang teramat. Membuat sesak dada. Perasaan terasa kalut.
Astaghfirullah... ada bendera kuning terkibar. Aku semakin khawatir. Hatiku bergetar hebat. Darahku berdesir kuat. Apa sebenarnya yang terjadi. Jangan... jangan... jangan. Aku tak kuasa menahan diri. Menghadapi kenyataan.
Ketika berada dihalaman rumah. aku langsung berlari. Orang sekitar terpaku memandangku. Itu tidak kupedulikan. Tiba-tiba kak siti. Kakakku. Langsung memeluk sambil terisak tangis berurai air mata. Kulihat matanya membengkak mungkin sudah banyak air mata yang keluar.
“Ponakanmu, ndri....”.
“ Alhamdulillah...”. ucapku refleks.
Dan. “plaaaakkkk”.....
Sebuah gambaran pancasila melekat di pipiku.
^_^
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan nama dan tokoh  itu hanya sebuah kebetulan semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar